Seperti halnya mantan anggota Komisi III DPR, Djoko Edhi Abdurahman, menyerukan agar DPR RI menjalankan hak interpelasi yang diikuti hak angket untuk membuktikan kesalahan presiden yang selanjutnya dapat menjadi dasar pemakzulan.
Dasar permintaannya adalah "tragedi" kemacetan parah sepanjang puluhan kilometer menuju pintu keluar Brebes Timur (Brebes Exit alias Brexit), Jawa Tengah, di tengah arus mudik sejak Sabtu lalu.
Ada lagi, Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid meminta pemerintah meminta maaf dan belasungkawa kepada mereka-mereka yang menjadi korban dari kemacetan panjang dan akhirnya mereka meninggal hingga sampai 18-an orang.
"Dan, sampai hari ini kita tidak dengar pernyataan belasungkawa seperti itu baik dari presiden atau Menteri Perhubungan, termasuk pihak-pihak yang bertanggungjawab secera langsung terhadap masalah ini. Jadi menurut saya penting pemerintah melakukan ini," kata Hidayat.
SBY pun tak ketinggalan ikut berkomentar dengan sangat prihatin dan menyudutkan pemerintah Jokowi sebagaimana wawancaranya dengan CNNNews.
“10 tahun saya mengelola mudik lebaran. Ada masalah. Saya selalu meninjau melalui Nagrek, Bakahuni, Merak, Cikampek, bahkan kemudian Jawa Timur sampai Jawa Tengah saya datangi. Di mana? Nagrek 3 kali saya meninjau untuk mencari solusi. Memang ada masalah-masalah itu. Tetapi memang tidak separah ini!
"Setiap mendekati lebaran, paling tidak 3 kali sidang kabinet. Mungkin tidak terlalu banyak diberitakan dulu. Saya pastikan kalau sudah mudik lebaran, yang ngatur transportasi ada, yang menyiapkan bahan bakar bahkan keliling juga ada, yang petugas kesehatan kalau kecelakaan juga ada, logistik juga ada, demikian juga yang laut dan udara, itu operasi total, mengapa? Kita harus melayani masyarakat,” papar SBY.
Yah....SBY memang lebih memilih mengunjungi Nagrek sebanyak 3 kali dibanding mengunjungi proyek mangkrak. Dan SBY juga paling rajin bikin video terkait isu - isu nasional terkecuali tentang I putu Sudiartana, SBY sampai saat ini belum meluncurkan videonya.
Terkait video SBY itu yang ikut mengkritik tentang korban mudik dan 'sok' mengajarkan tips - tips dan arahan - arahan mari kita berkaca dulu pada data, biar hitungannya jelas dan pasti. Berikut ini data korban meninggal selama beberapa tahun terakhir.
2003: 429 orang
2005: 798 orang
2006: 437 orang
2007: 798 orang
2008: 548 orang
2009: 598 orang
2010: 705 orang
2011: 990 orang
2012: 757 orang
2013: 686 orang
2014: 714 orang
2015: 657 orang
2016: 451 orang.
Dibandingkan korban mudik di era Jokowi, masih lebih banyak di era SBY. Paling tinggi tahun 2011, 990 jiwa. Dan total 10 tahun SBY yang katanya berpengalaman, mengantarkan sedikitnya 7,460 nyawa saat mudik lebaran selama dirinya menjadi Presiden. Jumlah Ini belum termasuk korban mudik tahun 2004 yang luput dari data.
Tapi tidak ada satu pun anggota DPR menuntut SBY minta maaf apalagi menuntut memakzulkan SBY! Miris!!
EE MANGINDAAN, MENTERI PERHUBUNGAN TAHUN 2011, yang juga Kader Demokrat
Oke lah itu soal kecelakaan dan korban meninggal, bagaimana dengan macet? Brexit macet mengekor sampai 18 km. Apakah benar sebelumnya tidak pernah macet?
2010, jalur Sradan Nganjuk macet mengekor sepanjang 15 km.
2011, jalur Magelang menuju Semarang macet mengekor sepanjang 10 km.
2012, dari Jakarta ke Subang harus ditempuh selama 30 jam karena macet.
Begitu juga dengan tahun-tahun sebelumnya atau setelahnya. Pada intinya, macet di mudik lebaran bukan pertama kali terjadi. Bedanya, dulu macetnya bukan di pintu tol, sebab dulu tolnya tidak dibangun.
Paling tidak, korban mudik tahun 2016, adalah yang terkecil selama 10 tahun terakhir.
Bicaralah berdasarkan fakta dan data, bukan berdasarkan gosip murahan! Menurut anda? (lensanews.com)


Posting Komentar